Search
Category
material
Monday, 01/12/2008 18:14 PM
Penangkal Petir Guna Mencegah Kerugian

Langit tiba-tiba menjadi gelap disertai angin yang berhembus kencang dan awan yang menjulang tinggi menyerupai bunga kol berwarna keabuan-abuan, kemudian udara terasa pengap. Ketika cuaca sudah berubah seperti itu, berhati-hatilah. Sebab, awan yang ter­ben­-tuk itu rawan biasanya disebut dengan awan petir CB (Comulunimbus), dan hujan yang akan ter­jadi akan disertai petir. Dalam musim penghujan seperti saat inilah awan-awan jenis ini itu acapkali terbentuk.

Petir sendiri adalah hasil pelepasan muatan listrik di awan. Energi dari pelepasan itu begitu besarnya sehingga menimbulkan rentetan cahaya, panas, dan bunyi yang sangat kuat, dan dapat menghancurkan bangunan, membunuh manusia, dan memusnahkan pohon. Sedemikian kuatnya energi itu, sampai-sampai ketika petir melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya, sebagai akibat udara yang terbelah. 

Sambarannya yang rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik itu juga akan menimbulkan bunyi menggelegar. Ketika akumulasi muatan listrik dalam awan tersebut telah membesar dan stabil, lompatan listrik (eletric discharge) yang terjadi pun akan merambah massa bermedan listrik lainnya, dalam hal ini adalah bumi. Besar medan listrik minimal yang  memungkinkan terpicunya petir ini adalah sekitar  satu juta volt per meter. Petir itu dapat terjadi antara awan dengan awan, dalam awan itu sendiri, awan ke udara, dan  awan dengan tanah (bumi).

     Dan tahukah Anda, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hari sambaran petir tertinggi di dunia. Bahkan, salah satu daerah di Indonesia, yakni Bogor, Jawa Barat pernah tercatat sebagai wilayah yang memiliki sambaran petir per tahun tertinggi di dunia, yakni sekitar 322 hari atau 88% per tahun.

“Sayangnya, tingginya aktivitas sambaran petir ini belum mendapat banyak perhatian dari berbagai pihak, termasuk para pelaku ekonomi. Padahal, para pelaku usaha ini sangat rentan terhadap sambaran petir dalam melakukan kegiatan-kegiatannya. Risiko ini tidak hanya membawa dampak negatif secara materi, namun juga korban jiwa,”  ujar Prof Dr Ir H Djuheri, MM, Guru Besar Bidang Ilmu Teknis Fisika pada Fakultas Teknik dan Sains Universitas Nasional (Unas) dalam orasi ilmiahnya yang berjudul ”Petir dan Dampak Negatifnya terhadap Aktivitas Masyarakat di Indonesia”, pada suatu kesempatan.

Salah satu cara untuk menghidari kerugian akibat petir adalah dengan memasang alat penangkal petir yang dapat menyalurkan energi superbesar petir langsung ke bumi. Alat penangkal petir ini harus dipasang pada bangunan tinggi, menara, lapangan golf, jembatan, dan lainnya. Pemasangan alat ini sebenarnya sudah banyak dilakukan, karenanya sudah ada beragam alat penangkal petir.

Juliandu, Direktur PT Denata Persada, yang memasarkan penangkal petir Thomas dan Gent asal Swiss, menjelaskan penangkal petir terdiri atas berbagai jenis. Pertama,  penangkal petir konvensional yakni berupa batang tembaga, biasa disebut batang finial,  yang dipasang di atas bangunan. Kedua, biasa disebut sangkar Faraday. “Jenis ini tidak ada di Indonesia, hanya dipakai di Jerman,” kata Juliandu. Ketiga, radioaktif. “Di Indonesia, jenis radioaktif sudah tidak boleh dipakai lagi karena berbahaya,” jelasnya lagi. Keempat, jenis Ionize Corona atau Electrostatic and Membrane System. Alat penangkal petir jenis inilah yang dipasarkan PT Denata Persada.

Alat penangkal petir jenis Ionize Corona memiliki kelebihan dibandingkan jenis konvensional karena area yang dilindunginya lebih besar. Jika jenis konvensional, satu batang finial tinggi 1 meter hanya bisa melindungi area seluas 1,5 m2, sementara jenis Ionize Corona satu batang merk Thomas dapat melindungi area berdimensi mulai dari 25x60x125 m3 dan satu batang merk Gent dapat melindungi area berukuran 35x75x150 m3. “Jika memakai jenis konvensional, akan membutuhkan batang finial yang banyak, kabel yang panjang, dan ground yang banyak,” kata Juliandu.

PT Erindo Mitra Sejahtera adalah pemasar produk penangkal petir Lightning Protection International Pty Ltd., dari Australia. “Alat penangkal petir yang kami pasarkan memiliki banyak kelebihan dibandingkan yang konvensional,” promosi Jerry Turangan, General Manager PT Erindo Mitra Sejatera. Selain memasarkan alat penangkal petir sambaran langsung, perusahaan tersebut juga memasarkan alat penangkal petir sambaran tidak langsung. Dua produk itu berbeda, sebab, “Kerugian akibat petir, dapat terjadi oleh dua jenis sambaran tadi,” kata Jerry .

Kerugian sambaran tidak langsung misalnya petir menyambar tiang listrik atau tiang telepon. Energi petir itu kemudian mengalir menuju peralatan rumah tangga yang memakai listrik atau alat telekomunikasi. Akibatnya peralatan itu akan rusak karena mendapat energi besar yang tidak seharusnya. Untuk itulah dibutuhkan penangkal petir sambaran tidak langsung yang biasa disebut Arester yang berguna untuk menahan energi petir agar tidak merusak. Jerry menjelaskan, “Kesadaran untuk memasang penangkal petir sambaran langsung sudah baik, namun tidak untuk yang sambaran tidak langsung. Padahal sudah sering terjadi kerusakan alat rumah tangga atau telekomunikasi karena sambaran tidak langsung,” papar Jerry.

Meski kesadaran pemakaian sudah mulai meningkat, sayangnya kualitasnya kurang diperhatikan. Jerry mengungkapkan, saat ini banyak produk penangkal petir berkualitas rendah, dengan harga yang memang murah. Rendahnya kualitas itu karena materialnya tidak didominasi tembaga yang merupakan material penghantar listrik terbaik. Jerry memasarkan produknya dengan harga sekitar Rp15 juta untuk rumah dan Rp20 juta-30 juta untuk bangunan pabrik, sementara Arester dijual dengan harga Rp2,8 juta untuk kapasitas 1 phase (paralel). Pemasar lainnya yaitu PT  Denata Persada, memasarkan penangkal petir dengan harga sekitar Rp22 juta (terpasang). Harga sangat tergantung area yang harus dilindungi dan ketinggian bangunan, karena dimensi tersebut menentukan panjang kabel yang harus digunakan.

Publisher : Majalah Properti Indonesia & IndonesianEstate.com