Search
Category
material
Friday, 01/06/2007 00:00 AM
Dak Beton Instan Untuk Gedung

Geliat bisnis properti kota-kota besar Indonesia sa­ngat berpengaruh pada ketatnya persaingan bisnis bahan bangunan. Para pro­dusen berlomba-lomba mengem­bang­kan inovasi-inovasi baru. Mereka memproduksi bahan bangunan spesifik yang sesuai dan dapat mengakomodasi kebutuhan bisnis properti. Salah satunya adalah dak beton instan yang belakangan mulai ramai digunakan.

Sejatinya, inovasi dak beton instan bertujuan untuk mereduksi ongkos dan waktu proses pembangunan terutama untuk gedung bertingkat. Metode kon­vensional yang biasa digunakan adalah mengecor de­ngan aneka perkakas macam besi beton, molen adukan cor, triplek alas cetakan, kayu perancah (bekisting) untuk meno­pang penampang cetakan beton plus pekerja dalam jumlah besar. Walhasil, selain membutuhkan dana besar, juga waktu yang relatif lama, yakni sekitar 3 minggu. Plus catatan selama masa tersebut aktivitas di lantai bawah otomatis terhambat akibat adanya tiang kayu perancah. Terlebih dengan makin langkanya pasok kayu untuk triplek alas dan bekisting, semakin membum­bung­kan biaya pembangunan.

Nah, dengan menggunakan dak beton instan, biaya konstruksi dan waktu dapat dikurangi dengan kualitas yang tak kalah kuat dengan cor beton biasa. Dak beton instan yang terdapat di pasar saat ini banyak ragam dan cara pemasangan­nya.  Di antaranya, balok lantai beton (baliton) atau blockvloer,  metal lantai beton (metal floor deck- MFD) dan balok keraton. Sistem baliton menggunakan blok-blok beton dari campuran pasir, semen dan batu. Masing-masing berukuran panjang 25-50 cm, lebar 10-12 cm serta berat sekitar 4-5 kg. Adapun keunikan blok baliton adalah memiliki rongga pada bagian tengahnya sebagai isolator panas sehingga ruangan bawah tetap sejuk.

Konsep serupa juga berlaku pada keraton. Bedanya blok keraton menggu­na­kan bahan keramik dari tanah liat yang dipanaskan dalam suhu tinggi. Bobot mati secara keseluruhan hanya 200-300 kg/m2 atau 40% lebih ringan ketimbang cor beton biasa. Baik baliton maupun ke­raton sanggup menahan beban 350-400 kg/m2. Sekadar informasi, keduanya telah mengadopsi sistem one way slab sehingga tidak terlalu mengganggu aktivitas ruangan bawahnya.   

  Dari segi instalasinya, pemasangan baliton pun tidak serumit cor beton konvensional. Baliton mengadopsi sistem semi knocked-down yang terdiri atas 2 bagian utama yakni slab baja bertulang dan blok beton. Contohnya produk baliton Shera-Deck pabrikan PT Adhi Cipta Indah yang mengadopsi teknologi Jerman. Terdiri atas balok beton pracetak T beam sepanjang 4-6 meter dan blok beton berjuluk flooring deck. Cara pengerjaan Shera-Deck diawali dengan pemasangan balok kolom dengan ukuran tertentu se­bagai portal struktur bangunan yang kemudian ditumpuk beton pracetak T beam. Selanjutnya di antara T beam tadi disisipkan flooring deck. Selanjutnya lapisan balok kolom dan blok beton ditutupi tulangan jala (wire mesh) yang akhirnya dicor dengan ketebalan 4-5 cm.

“Pengangkutan dan pemasangan Shera-Deck dapat dilakukan sendiri oleh pekerja bangunan tanpa bantuan alat berat. Jadi bisa selesai dalam waktu seminggu saja,” kata Marketing Manager Adhi Cipta Indah, Jeffrey Surya. Peng­guna­an sistem Shera-Deck diklaim dapat meng­hemat ongkos sekitar 10-15% ketimbang sistem cor beton konvensional. Sedangkan pada sistem keraton, se­belum dipasang blok keramik terlebih dahulu harus di­rendam hingga jenuh dengan air.

Menilik spesifikasi ukuran dan konsep pemasangannya, sejatinya sistem baliton dan keraton lebih cocok diaplikasikan pada bangunan kecil hingga sedang se­perti rumah atau ruko. Sementara untuk gedung bertingkat berskala besar ma­cam mal, kantor atau apartemen, lebih cocok menggunakan sistem MFD. Salah satu produk yang mengadopsi sistem MFD adalah SMARTDEKTM racikan PT Blue Scope Lysaght Indonesia. Ber­beda dengan ‘pendahulunya’ yaitu BONDEKâ yang menganut konsep slab closed profile dan sanggup mengancing kuat dengan komponen beton,  maka SMARTDEKTM menampilkan konsep slab open profile berbentuk huruf  W.

“Bentuk W tesebut menjadikan SMARTDEKTM memiliki daya rekat lebih tinggi dengan komposit beton. Sedang untuk memperkuat kaitnya, terdapat fitur embossment setinggi 3 mm yang muncul dari permukaan SMARTDEKTM,” papar National Sales Manager Multistorey Bluescope Lysaght, Yustinus Sigit. Dengan ukuran panjang slab 960 mm, menjadikan SMARTDEKTM cukup pas dengan ukuran standar lebar kolom dan beton standar di Indonesia yang biasanya sekitar 1 meter. Tak perlu ada pemotongan slab. Ini se­kaligus bisa mengingkatkan efisiensi penggunaan material hingga 25%. Bila dibandingkan dengan cor beton konven­sional, penggunaan SMARTDEKTM bisa menghemat biaya pembangunan dak lantai atas hingga puluhan ribu per m2.

Ada pun bahan bakunya berasal dari material baja elastis (high tensile) jenis G550. Bisa menahan beban hingga 550 kg/m2 dengan kebutuhan slab 1 tu­langan saja. "Agar meningkatkan presisi perhitungan instalasi SMARTDEKTM dengan konstruksi di lapangan, kami juga menyediakan fasilitas software perhi­tungan konstruksi MEGAFLOORTM Software," tukas Sigit. Sejumlah gedung komer­sial Ibukota yang telah mengguna­kan teknologi ini antara lain Summarecon Mall Serpong, Pacific Place, Eminence Dharmawangsa, dan Cambridge Mall (Medan). Sedang  di luar negeri antara lain di China (Shanghai World Financial, Jinmao Tower), Singapura (Republic Tower) serta Bahrain Financial Harbour di UEA.

Publisher : Majalah Properti Indonesia & IndonesianEstate.com