Search
Category
kolom
Tuesday, 01/09/2009 00:00 AM
Perjanjian Pengikatan Jual Beli/PPJB

Tanya:

Beberapa bulan yang lalu saya ditawari oleh salah seorang marketing sebuah rumah susun bersubsidi di daerah Jakarta Timur, karena tawarannya cukup menarik maka saya pun berminat untuk membeli salah satu unitnya. Saat ini saya telah membayar uang booking fee dan down payment (DP) ke-3 serta telah menandatangani surat pemesanan.

Beberapa waktu yang lalu saya dihubungi oleh bagian legal dari pengembang tersebut, katanya saya diminta untuk menandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli atas unit yang saya beli. Karena masih sangat awam dengan masalah rumah susun/apartemen, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan hal tersebut di atas, apakah yang dimaksud dengan perjanjian pengikatan jual beli, dan mengapa harus diikat dalam bentuk perjanjian? Lalu, apakah setelah penandatanganan perjanjian pengikatan itu surat pemesanan tidak berlaku lagi? Dan, bagaimana jika saya tidak menandatangani perjanjian pengikatan itu pada waktu yang ditentukan?

Terima kasih atas penjelasannya.

Hormat Saya,

Anugrah Afsa Al Ikram

Jakarta

 

Jawab:

Sebelumnya saya jelaskan bahwa salah satu prinsip dalam hukum pertanahan kita adalah tunai dan tuntas. Artinya barang yang akan ditransaksikan harus sudah ada dan dibayar secara lunas, sehingga proses jual beli bisa terjadi.

Karena syarat tersebut belum bisa dipenuhi maka dibuatlah Perjanjian Pengikatan Jual Beli atau (PPJB) yaitu suatu perjanjian yang dibuat dengan maksud untuk melakukan jual beli pada saatnya nanti setelah semua persyaratan sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundangan telah terpenuhi. Di mana kondisi saat ini, antara lain obyek jual beli belum selesai dibangun, Izin Layak Huni (ILH) atau Izin Penggunaan Bangunan (IPB) belum diperoleh, akta pemisahan atas Sarusun untuk pembuatan SHM Sarusun atas nama calon pembeli belum diterbitkan dan/atau harga jual belum lunas.

Kesepakatan para pihak (calon pembeli dan pemilik) dibuat dalam bentuk Perjanjian Pengikatan Jual Beli/PPJB. Karena transaksi jual beli dilakukan secara pesan terlebih dahulu (indent) sehingga menyebabkan adanya perjanjian jual beli pendahuluan (preliminary purchase), yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk PPJB. Tujuanya adalah untuk melindungi kepentingan para pihak dari kemungkinan terjadinya ingkar janji.

Setelah penandatanganan PPJB, Surat Pesanan akan tetap berlaku dan selanjutnya menjadi lampiran dari PPJB atau dengan kata lain menjadi bagian yang integral (satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan) dengan PPJB, sehingga Surat Pesanan masih berlaku sepanjang PPJB masih berlaku.

Bilamana Bapak tidak atau belum mendatangani PPJB pada waktu yang telah ditentukan, maka Bapak biasanya tidak diperbolehkan melakukan serah terima fisik sarusun, mengalihkan hak dan kewajibannya kepada pihak lain, menandatangani AJB atas sarusun. Saran saya, sebaiknya Bapak sesegera mungkin menandatangani PPJB tersebut, karena dalam PPJB itu diatur hak dan kewajiban para pihak secara lebih detil, jika ada ketentuan-ketentuan dalam PPJB yang kurang cocok Bapak bisa menegosiasikan dengan pihak pengembang.

Demikian penjelasan singkat kami. Terima Kasih.

Publisher : Majalah Properti Indonesia & IndonesianEstate.com