Search
Category
kawasan
Tuesday, 01/04/2008 00:00 AM
DAAN MOGOT Makin Dipenuhi Kelas Menengah Atas

Menyebut nama Daan Mogot, yang terbayang adalah sebuah ruas jalan yang panjang sekali. Jalan ini panjangnya hingga 24 kilometer, terbentang dari perempatan Grogol, Jakarta Barat hingga perempatan Masjid Agung Tangerang. Menghubungkan dua propinsi, Banten dan Jakarta, dengan batas di daerah Batu Ceper.

Karakter jalan ini dari “hulu ke hilir” relatif mirip, disesaki bangunan-bangunan industri, terutama ke arah Tangerang, sampai bangunan pemerintah yang memerlukan lahan lapang. Seperti “pabrik” BASF, cat Mowilex, ABC food industry dan Bir Bintang, juga Samsat Polda MetroJaya dan stasiun pengendali satelit Palapa milik PT Telkom. Mereka sudah hadir di sana sejak puluhan tahun silam. Pilihan lokasi ini mengingat, kala itu daerah terhitung pinggiran kota yang masih sepi.

Menyusul dibukanya kawasan Cengkareng oleh Perum Perumnas, di awal tahun 1990-an, “area” tengah Daan Mogot makin diminati. Kali ini tidak lagi oleh pengusaha industri, melainkan oleh pengembang properti. Tidak heran, kalau di teritorial Jakarta Barat ini tumbuh perumahan-perumahan baru, sebut saja Taman Palem Lestari, Taman Surya, Taman Kencana, Citra Garden dan Daan Mogot Baru. Meski terhitung di pinggir kota Jakarta, tetapi aksesibilitas mereka dimudahkan oleh Jakarta Outer Ring Road (JORR) 1 yang juga memotong jalan tol Jakarta-Merak dan Sentra Barat Jakarta di Kembangan.

Belakangan, pertumbuhan properti di sini makin marak, menyusul jalan tol di tengah JORR itu disebut-sebut akan mulai dibangun. Jenis propertinya pun tak lagi sebatas landed house dan ruko, juga apartemen dan mal besar. Memulai sejak dua tahun lalu Agung Sedayu Grup mem­bangun properti mixed use, the City Resort, berisi apartemen dengan banyak menara dan mal. Tak mau kalah, untuk menghabiskan sisa lahannya yang masih 41 Ha, Perum Perumnas dan PT Reka

Rumanda Agung Abadi berkolaborasi mem-bangun rusun murah bernama City Park.

Jauh sebelum mereka hadir, kawasan sepanjang Daan Mogot menjadi lokasi kompleks perumahan pegawai instansi pemerintah, antara lain ditjen imigrasi, departemen agama, sampai yang lembaganya sudah “almarhum”, Bank Dagang Negara (BDN) dan departemen penerangan. Sementara, perumahan yang dikembangkan developer swasta “hanya” Green Garden dan Greenville

Menurut Principal Ray White Puri Indah, Ali Hanafia, makin ramainya pembangunan hunian di sini terutama di kawasan Cengkareng, karena masih tersedianya lahan kosong berukuran luas. Itulah sebabnya, skala perumahan-perumahan di sini terhitung besar. Seperti CitraGarden City evolusi dari CitraGarden yang merangkum 7 seri dengan luas lahan mencapai 50 hektar. Begitu pun dengan Taman Palem Lestari yang dikembangkan PT Cakra Bina Lestari dan PT Karya Megah Permai (Agung Sedayu Grup) dengan proyek The City Resort Residence-nya,  yang berluas lahan 30 hektar. Bahkan Daan Mogot Baru (Fajar Surya Perkasa-Fassa) memakan lahan 70 hektar dan menjadi proyek terluas di sini.

Karena skalanya cukup besar, perumahan-perumahan itu juga membangun aneka fasilitas. Mulai dari ruko sampai mal untuk ruang komersialnya, sekolah berkapasitas besar, sport club dan rumah sakit. Tak cukup dengan itu, rencananya pengembang Daan Mogot Baru dan CitraGarden City juga akan membangun area komersial utama. Di sini rencananya akan ada sejumlah low-rise building yang saling terintegrasi sebagai wadah aktivitas lifestyle kaum urban modern. Seperti di area gerbang utama CitraGarden City kelak di tepi JORR seksi W1 yang akan diisi sejumlah bangunan apartemen dan komersial, melingkupi danau buatannya seluas 5 Ha.

Tak mau tanggung-tanggung, di 20 Ha sisa lahannya Fassa bahkan akan membangun office park, apartemen dan satu rumah sakit baru. Pembangunannya direncanakan akan dimulai pada kuartal terakhir tahun ini. Dijelaskan Juan Panca Wijaya, General Manager Fassa, gedung-gedung jangkung tersebut ditujukan bagi pekerja dan perusahaan yang ada di sekitar Kalideres, Cengkareng dan Daan Mogot. “Apartemen kami akan dijual dengan kisaran harga Rp200 juta/unit,” ungkap Juan.

Selain dengan JORR kedekatan dengan Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta juga turut mendorong ramakinya kawasan ini. Hal ini pula yang menurut Juan, pihaknya memilih kawasan Cengkareng-Daan Mogot. Apalagi, sejak dua tahun lalu jalur TransJakarta juga telah beroperasi di ruas Jl. Daan Mogot Raya.

Dengan lokasinya yang strategis, tidak heran, kalau harga tanah di sejumlah perumahan di sini sudah tak ada lagi yang berada di bawah Rp1 juta. “Harganya berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp3,5 juta/m2,” jelas Ali. Para broker dan pemilik proyek di sini yakin, harga tanah (juga properti) di sini akan meningkat lagi, karena seksi W2 JORR yang membelah Cengkareng sudah dimulai pembangunannya. “Dalam 1-2 tahun ke depan, jalan ini akan lebih memudahkan pencapaian ke bandara, juga ke pusat kota melalui pintu tol Kebon Jeruk karena menyambung dengan pintu tol Kembangan,” timpal Juan.

Menilai harga tanahnya makin tinggi, hampir semua pengembang yang berkiprah di sini tak ragu untuk terus membangun rumah-rumah yang termasuk kategori kelas atas. Sebut saja CitraGarden City (bagian dari Citra Garden) yang memasarkan rumah-rumah seharga Rp700 juta hingga lebih dari Rp1 miliar, berukuran 142/90 sampai 217/200 m2. Fassa juga masih memasarkan rumah-rumah di Cluster Ubud-nya, yang berharga mulai dari Rp800 juta dengan ukuran tanah 200 m2. Menurut Juan, menghabiskan rumah di cluster ini yang tinggal menyisakan 20% dari total 500 unitnya itu adalah salah satu targetnya tahun ini.

Tampaknya para pengembang itu harus lebih bekerja keras, karena pesaing makin bertambah dengan masuknya dua pemain baru di sini, walaupun dengan skala proyek yang tak sebesar pendahulunya. Yaitu PT Premier Qualitas Indonesia dengan Premier Pavillion-nya di kawasan Kalideres. Berdiri di atas lahan 6 Ha perumahan ini terdiri atas 118 unit rumah. Menurut Sami Miettinen, Direktur PT Premier Qualitas Indonesia, perumahan ini ditujukan bagi kalangan menengah-atas dengan harga berkisar Rp700 juta-Rp1,3 miliar dengan sistim one gate.

Yang paling gres adalah Agung Sedayu Grup yang melansir Green Mansion di tepat pertigaan Green Garden dan Jl Daan Mogot.  Di lahan seluas 12 Ha, yang mengembangkan konsep perumahan hijau, dengan memperbanyak area hijaunya. Tawaran harganya juga mulai dari Rp800 juta.

Kalau para pendahulu masih disibuki membangun landed house, PT Multi Artha Griya mulai membangun apartemen dengan meluncurkan apartemen Centro City Residence. Lokasinya memang tak berhimpitan dengan “gerombolan” proyek-proyek  tadi, melainkan lebih dekat dengan perempatan Grogol. Dengan demikian, pesaingnya adalah apartemen-apartemen di Central Park dan Seasons City, meski tidak juga bisa dikatakan head-to-head. Sebab, apartemen ini menyasar kelas menengah bawah, dengan kisaran harga Rp150 juta-Rp180 juta/unit. Makin banyaknya proyek baru, membuat pasar memang makin riuh. Tapi pastinya yang paling diuntungkan adalah konsumen, karena pilihan makin beraneka.

Publisher : Majalah Properti Indonesia & IndonesianEstate.com