Search
Category
akreditasi
Friday, 01/08/2008 00:00 AM
PT Fajar Surya Perkasa (Fassa) Wujudkan Kota Dalam Kota

Gila. Itulah kata yang diungkapkan Juan Panca Wijaya, General Manager PT Fajar Surya Perkasa (Fassa) untuk menggambarkan perusahaannya. Hal itu lantaran Fassa mengusung konsep “Kota Dalam Kota” bagi proyeknya Daan Mogot Baru yang mulai dikembangkan pada tahun 1994 di Jakarta Barat. “Sebuah kota tentu harus memiliki banyak fasilitas sementara lahan Daan Mogot Baru hanya 70 hektar. Butuh investasi yang sangat besar. Namun kami tidak peduli, kami akan tetap merealisasikannya,” papar Juan sambil tersenyum yakin.

Dari total lahan, 60% dibangun residensial, 30% komersial, dan sisanya untuk penghijauan. Saat ini sudah 50 Ha yang terbangun. Untuk residensial, tahap I dibangun cluster Kintamani,  tahap II cluster Tampak Siring. Kedua cluster itu sudah habis terjual. Untuk tahap III, dibangun cluster taman Gilimanuk (250 unit), The Gilimanuk (40 unit), Taman Bedugul (170 unit), dan Taman Ubud (200 unit). “Tersisa sedikit, tinggal 5 sampai 10%,” ungkap Juan seraya mengatakan rumah di tahap III dibanderol mulai dari Rp550 juta. 

Daan Mogot Baru terbilang cukup strategis. Ia dilintasi jalur bus Transjakarta (busway). Apalagi, tidak lama lagi jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) W1 (Kebun Jeruk-Penjaringan) dan W2 (Ulujami-Kebun Jeruk) akan rampung. Sehingga mudah dicapai dari segala penjuru kota.   

Kendati hanya 70 Ha, Daan Mogot Baru memiliki beragam fasilitas skala kota. Fasilitas yang sudah ada di sini adalah Mal Matahari (32 ribu m2), Rumah Sakit Ibu Anak Hermina, Sekolah Dian Harapan, Pusat Bisnis (ruko). Dibangunnya berbagai fasilitas tersebut tentu bukan tanpa tujuan. Antara lain untuk memenuhi kebutuhan penghuni dan masyarakat sekitar Daan Mogot Baru. “Seperti tujuan kami, kini Daan Mogot Baru menjadi sentra ekonomi bagi daerah di sekitarnya karena fasilitas yang kami miliki cukup lengkap,” ujar pria ramah berkacamata itu.

Bertambahnya fasilitas tentu juga mengerek nilai tanah dan properti di atasnya. Pada tahun 1994, saat Daan Mogot Baru diluncurkan, harga tanahnya masih berkutat pada angka Rp900 ribu/m2. Kini telah mencapai Rp3,8 juta-5 juta/m2. “Melonjaknya harga tanah ini tentu saja mempengaruhi perubahan hasil investasi,” kata Juan.

Diperkirakan harga tanah akan terus meningkat seiring rencana Fassa mengembangkan  tahap IV yakni cluster Jimbaran (200 unit) dengan harga rumah Rp600 juta-1,5 miliar. Selain itu mereka akan membangun office park, apartemen, dan penyelesaian pusat bisnis. Semua ini akan diwujudkan pada akhir tahun 2008 di atas lahan seluas 1,3 hektar. Apartemennya sendiri saat ini sedang memasuki tahap feasibility study. “Kami sedang merancang desain dan konsep pengembangan. Pasalnya di sekitar Daan Mogot Baru kini banyak dibangun rumah susun sederhana milik (rusunami),” ucap Juan.

Yang membuat apartemen ini menarik, lanjutnya, selain berfasilitas modern, juga karena letak­nya yang persis di samping Mal Matahari. Antara mal dan apartemen nantinya bisa terhubung, yang bisa buka 24 jam. Di situ bisa dijadikan tempat minum dan bersantai atau hang out oleh para penghuni.

Sementara office park akan mulai dibangun tahun depan di atas lahan seluas 1,6 Ha. Ada 80 kavling yang akan ditawarkan. Lokasi office park ini sangat strategis karena terletak persis di depan jalan utama Daan Mogot Raya. Per blok terdiri atas tujuh hingga delapan lantai, dilengkapi dengan lift, dan dijual dengan harga Rp4 miliar-5 miliar. Juan mengatakan ide untuk membuat office park ini juga bukan tanpa alasan. Di sepanjang Jalan Daan Mogot Raya terdapat banyak perusahaan/pabrik berskala besar.

“Mereka tidak mempunyai kantor yang representatif. Sementara ini, kantor operasional mereka jadi satu dengan pabrik. Idealnya kantor operasional terpisah, tapi tidak jauh dari pabrik. Nah, peluang inilah yang ingin kami manfaatkan,” tuturnya.  Sedangkan untuk penyelesaian pusat bisnis akan dibangun 100 unit ruko seharga Rp800 juta-1,2 miliar.

Langkah Fassa tidak selalu mulus. Pada saat huru-hara tahun 1998, Mal Matahari yang dulu berlabel Mal Daan Mogot Baru, sempat dijarah dan dibakar massa, sehingga pengembangan Daan Mogot Baru vakum. Setelah klaim asuransi keluar, dana dipakai untuk membayar hutang kepada bank. Pada tahun 2002, Mal Matahari beroperasi kembali. Ada pun dana yang digunakan untuk memperbaiki Mal Matahari berasal dari kocek perusahaan dan sejak itu Fassa tidak lagi memanfaatkan fasilitas kredit perbankan.  Dengan segala kelebihan yang dimiliki, Juan yakin, Daan Mogot Baru akan rampung empat tahun lagi.

Publisher : Majalah Properti Indonesia & IndonesianEstate.com