Search
Category
akreditasi
Wednesday, 01/08/2007 00:00 AM
PT Nusa Kirana Siapkan Dua Proyek Baru

Strategi bisnis setiap pengembang memang berbeda-beda. Ada yang begitu agresif, ada pula yang memilih menjadi konservatif. PT Nusa Kirana (NK) ter­masuk kategori terakhir. Bagaimana tidak, meski termasuk pengembang gaek, berdiri tahun 1978, mereka baru membangun lima perumahan dan satu gedung perkantoran.

Padahal, sejatinya, NK pernah berkolaborasi dengan PT Summarecon Agung Tbk, mengembangkan Kelapa Gading Permai yang terbilang fenomenal. Namun, karena satu kapal tidak boleh ada dua nahkoda, kongsi pun kemudian pecah. Jadilah, NK memindahkan wilayah garapan ke daerah Sunter dengan membangun perumahan Sunter Kirana di atas lahan seluas 35 Ha. Meski pecah kongsi tapi kawasan Kelapa Gading tidak lantas ditinggalkan. Pada tahun 1992 NK kembali berkarya di sini dengan mengembangkan Gading Kirana seluas 40 Ha dan Kirana Timur seluas 1,7 Ha. Tak sebatas itu, dua tahun kemudian, NK mendirikan gedung perkantoran Graha Kirana di Jl Yos Sudarso setinggi 14 lantai dengan total luas bangunan 25 ribu m2. Setelah itu, mereka melirik wilayah lain yang potensi dan ceruk pasarnya lebih luas yakni ke Pulogebang, Jakarta Timur. Mereka merancang Pulogebang Kirana di atas lahan seluas 8 Ha.

“Kami memang mengambil strategi bisnis konservatif. Tidak jor-joran membangun banyak proyek properti. Kami fokus ke satu proyek. Setelah berjalan baik  baru membangun yang lainnya. Hal itu kami lakukan agar konsumen mendapat pelayanan yang prima, karena konsentrasi kami tidak ter­pecah-pecah,” papar Direktur PT Nusa Kirana Lanny. 

Mudah dipahami jika dalam menerapkan strategi pendanaan, NK juga mengemohi tawaran pinjaman dari bank. Mereka lebih memilih mengguna­kan ekuitas sendiri. Terbukti konservatif­isme yang ditempuh ini mampu menye­lamatkan mereka saat krisis ekonomi pada tahun 1997 lalu. Dalam  pengem­bangan rencana proyek ke depan pun mereka tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian.

Dalam kondisi aktual saat ini, NK mulai merambah Bekasi. Seolah tak mau kalah dengan mitranya dulu yang juga tengah mempersiapkan township development  seluas 400 Ha. Bedanya, NK cukup menunjukkan keber­ada­annya dengan sebuah hunian kelas menengah Villa Meutia Kirana seluas 10,5 Ha di Jl Cut Meutia. Bukan tanpa alasan, mereka kepin­cut Bekasi. “Perkembangan­nya sangat pesat, perminta­an rumah terus meningkat, dan kami memiliki lahan yang strategis yakni di tengah-tengah dua pintul tol Bekasi Barat dan Bekasi Timur. Untuk itu­lah kami memba­ngun peru­mahan Villa Meutia Kirana tahun ini,” kata Franklin J.E. Hukom, Kabid Peren­canaan dan Pembangunan PT Nusa Kirana.

Berbagai kelebihan di­tawarkan perumahan yang akan diisi 270 unit rumah dan 15 unit ruko ini. Antara lain, lokasi yang strategis, dileng­kapi fasilitas sport center, jalan beton dengan ROW minimal 10 meter, sekeliling peru­mahan dihiasi taman, utilitas bawah tanah, sertifikat sudah pecah, dan bebas banjir. “Kami merancang Villa Meutia Kirana sedemikian rupa agar banjir bisa dianti­sipasi dengan baik,” kata Franklin.

Ada lima tipe rumah bergaya minimalis yang ditawarkan, terkecil berukuran 9x15 dan terbesar 15x18 dengan harga berkisar Rp850 juta sampai Rp1,6 miliar. Karakter pasar yang dibidik adalah penduduk Bekasi yang ingin naik kelas atau terkena banjir dan penduduk Jakarta yang ingin tinggal di Bekasi namun tidak jauh dari tempat beraktifitas. “Kami menargetkan seluruh rumah bisa terjual dalam waktu dua tahun. Yakin target itu bisa tercapai karena semua kele­bihan yang kami tawarkan,” kata Lanny seraya meng­ungkapkan inves­tasi yang ditanam­kan di luar tanah menca­pai Rp40 miliar.

Selain itu, NK kini juga tengah sibuk menguruk lahan miliknya di ka­wasan Rorotan, Jakarta Utara, tepatnya di samping jalan Cakung-Cilincing. Lahan seluas 120 Ha ini sudah dimiliki sejak tahun 80-an. Ren­cananya, di sini akan dibangun perumahan Rorotan Kirana dan mulai dipasarkan tahun depan. Untuk tahap per­tama, lahan yang akan digarap seluas 40 Ha dengan nilai investasi di luar tanah sebesar Rp80 miliar. “Kami akan meng­hadir­kan nuansa Kelapa Ga­ding di Ro­rotan Kirana,” kata Lanny. Se­lain diisi rumah dengan harga mulai Rp500 juta, juga bakal dibangun  aparte­men dan fasilitas ko­mersial.

Dikembangkannya Rorotan Kirana tak lepas dari rencana pemerin­tah yang akan mem­bangun JORR Segmen E3 Ca­kung-Cilincing (kini pem­bangunan sudah sete­ngah jalan, sudah sampai  Kawasan Berikat Nusantara) terkoneksi dengan jalan tol Cikarang-Tanjung Priok (Karang-Tanjung). “Jika jalan tol jadi, perumahan Rorotan Kirana akan se­makin strategis dan berpeluang ter­serap pasar,” kata Franklin seraya me­ngatakan target pasar yang dibidik adalah warga Jakarta yang ingin tinggal di perumahaan eksklusif dengan harga terjangkau. Sekadar informasi, Rorotan Kirana ini berada tidak jauh dari  rencana rumah susun milik Pemprov DKI.

Selain dua proyek anyar tadi, NK juga masih memiliki cadangan lahan yang belum digarap. Di antaranya, di Kelapa Gading. Tepatnya di sisi pintu masuk ke Jl Boulevard Barat seluas 5 Ha.  Juga di sisi Jl Boulevard Barat dan Timur masing-masing 1 Ha. “Ren­cananya akan dibangun apartemen dan hotel,. Tapi ren­cana itu belum final. Karena kami lebih memilih fokus di Villa Meutia Kirana dan Rorotan Kirana,” tambah Franklin.

Publisher : Majalah Properti Indonesia & IndonesianEstate.com