Search
Category
Profile
Sunday, 01/04/2007 00:00 AM
Kamar Sederhana Sang Jenaka

Popularitas serial komedi situasi Office Boy (disingkat OB) ternyata lintas batas dan dimensi. Ia tak terkooptasi pada ruang yang terbelenggu kemunafikan kosmetika strata dan kelas. OB disukai oleh semua generasi, tua-muda, lelaki-wanita, pejabat-sahaya, dan juga mereka yang merindui realitas panggung pertunjukan yang menyentuh bumi.

Monster hit ini juga berimplikasi pada pengakuan dan apresiasi tinggi masyarakat terhadap kemampuan seni peran para aktor­nya. Satu di antaranya adalah Bayu Oktara. Ia sangat melebur dalam karakter ‘Gusti’ yang dilakoninya. Dengan akting alamiah­nya, Bayu bahkan tidak lebih dikenal daripada ‘Gusti’. “Para peng­gemar seperti ibu-ibu hamil yang ketemu di swalayan hingga anak-anak SMP dekat rumah, selalu memanggil saya Gusti. Mau bagaimana lagi, mereka tak tahu siapa Bayu,” cerita Bayu riang.

Seriang itu pula ia menerima kami di kediamannya yang asri di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Tak ada kelelahan yang tampak pada raut wajahnya, meski harus menjalani syuting maraton Senin-Jumat selama lebih kurang 13 jam sehari. “Melebihi waktu lembur pekerja kantoran. Tapi saya enjoy,” ujarnya.

Suasana riang dan cerahnya cuaca pagi, disempurnakan oleh keterbukaan Bayu akan kehidupan privatnya. Ia sama sekali tak menjaga jarak apalagi sampai harus menerapkan protokoler khas aktor dan aktris yang tengah menanjak nama dan kebintangannya. Bayu adalah memang sebagian dari Gusti, yang menurut pengakuannya, “Gue banget”. Ia sosok yang bersahaja, down to earth, apa adanya, konyol, suka tertawa (termasuk menertawai diri sendiri, sesuatu yang jarang dilakukan sebagian dari kita) dan santun.

Tanpa sungkan suami dari Yessy Libridha ini mempersilakan kami memasuki ruang peraduannya. Di kamar seluas 6x5 meter persegi inilah Bayu betah berlama-lama. Tak hanya melepas ketegangan otak dan jasmani, ia juga kerap nonton film-film komedi situasi luar negeri favoritnya macam Friends, Everybody Loves Raymond dan My Name is Earl. Dari film-film ini ia mendapat pengetahuan bahwa menjadi komedian, apalagi komedian cerdas, itu sulit. Butuh belajar dan pembelajaran. “Mudah untuk membuat orang tertawa. Sebaliknya sangat sulit membuat orang merenung setelah tertawa,” tukas pehobi traveling, baca dan kolektor buku-buku berbau filosofi dan bisnis ini.

Bersama sang istri, Bayu menata sendiri kamarnya dengan sapuan warna putih yang mendominasi hampir sebagian ruang dan warna pastel cerah pada bidang lainnya. Terkesan tidak monoton, meski tidak ditemui ornamentasi yang memeriahkan suasana kamar. Ia hanya mendokumentasikan sebagian perjalanan sejarah hidupnya dalam pigura-pigura kecil pada sebidang dinding untuk memenuhi unsur dekoratifnya. Sepetak bidang lainnya, di sebelah kiri tempat tidur single bed, terdapat ‘ruang aktualisasi’ Bayu yang disebutnya sebagai, “Masa depan gue ada di sini”.

Di sini ada meja kerja yang di atasnya terdapat notebook yang berisi berbagai kegiatan dan rencana Bayu ke depan. Seperangkat produk elektronik digital teronggok di sebelahnya. Ini sekaligus representasi bahwa Bayu, tidak muncul a la kadarnya sebagai aktor, ia melek teknologi, dan sangat well organized. Di kiri atas meja kerjanya tersusun rak buku gantung yang simple,  menambah manis visualisasi yang tercipta. Kamar yang bertirai hijau pupus, karenanya begitu teduh, ini dilengkapi dengan wardrobe besar yang ditempatkan di depan pintu masuk. Kesannya agak terpisah karena disekat oleh sebidang dinding.

Selain di kamar, sudut ruang yang difavoriti kelahiran Jakarta (dan asli Betawi), 1 Oktober 1978 ini adalah kamar mandi. “Bisa berjam-jam di sini. Nyari ilham,” tandas Bayu. Kamar mandinya berkonsep clean and clear. Kering dan bersih. Nuansa gelap yang ditimbulkan oleh penggunaan keramik berwarna hitam, terinspirasi oleh advertensi perusahaan ubin dengan tagline terkenal No Tile Like It. Selain terdapat peralatan mandi, Bayu melengkapi ruang paling pribadinya ini dengan sekeranjang bacaan-bacaan lokal dan luar negeri. “Saya harus up to date. Nggak lucu kalau kepala kosong,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen, Universitas Trisakti, Jakarta, ini.

Tak heran, aktifitasnya tidak hanya terpaku pada OB yang sudah dijalaninya sebanyak 241 episode. Ia juga masih aktif sebagai penyiar radio Hard Rock FM Jakarta dan menjadi presenter di berba­gai acara off air. Ke depan, Bayu akan membuka usaha creative business yang mulai dirintis­nya saat ini. “Untuk sang buah hati,” ujar calon ayah (hingga tulisan ini dibuat ia ma­­sih menanti kehadiran buah hati­nya) yang jenaka dan se­lalu tersenyum dalam setiap kali­mat yang diucap­kan­nya itu. Demi sang buah hati pula, Bayu telah mem­beli se­buah unit apartemen seluas 40 m2 di Marbella Kemang Residence yang ren­cananya akan ditempati tahun depan.

Publisher : Majalah Properti Indonesia & IndonesianEstate.com